Organisasi Vs Kuliah
Topik ini cukup menarik untuk dibahas.
Bagaimana tidak, kontroversi antara organisasi dan kuliah sangat
kentara di kalangan keluarga, dosen bahkan mahasiswa itu sendiri.
Sungguh dilematis ketika kita harus menghadapi pilihan hidup
tersebut, terutama bagi mahasiswa baru yang baru saja menginjakkan kaki
di dunia kampus.
Pandangan umum dari para orang tua, mahasiswa baru, masyarakat yang
tak pernah mengenal organisasi maupun kaum yang “traumatis” terhadap
organisasi, cenderung berpendapat untuk focus kuliah saja dan tak usah
berorganisasi. Alasannya Kenapa?
- Fokus kuliah agar punya banyak waktu untuk belajar, agar cepat
wisuda, agar lulus dengan nilai terbaik (IPK diatas 3), harapannya
mendapat pekerjaan yang bagus, dan akhirnya sukses sesukses mungkin dan
secepat mungkin. Dan itulah yang mereka harapkan.
Namun faktanya, kenyataan tak seindah angan.
Mereka yang memilih focus untuk kuliah yang biasanya disebut
mahasiswa Kupu-Kupu (Kuliah-pulang, kuliah-pulang), banyak dari mereka
justru mendapat IPK dibawah 3. Masa sih? Buktinya?
Tak susah untuk membuktikan itu, cukup perhatikan keadaan di
sekeliling kelasnya atau di kelas kakak-kakak tingkatnya, kalian
menemukan fakta bahwa sebagian dari mereka yang ber-IPK rendah tidak
berorganisasi. Begitu pula mahasiswa yang kuliahnya lama. Sebagian dari
mereka tidak berorganisasi.
Pandangan kedua yang diwakili oleh mahasiswa “terlanjur cinta”
organisasi, mahasiswa sadar organisasi dan para orang tua/masyarakat
yang melek organisasi berpandangan bahwa:
Organisasi itu sangat penting didalam menunjang softskill mahasiswa.
Baik itu berupa keahlian khusus yang diperoleh dari
pelatihan/pendidikan organisasi, leadership, administrasi,
jaringan/koneksi, public speaking (orasi), team work (kerja tim), dsb.
Kemampuan seperti itu sangat dibutuhkan dan bermanfaat ketika terjun
ke masyarakat ketika KKN maupun terjun ke masyarakat nyata di
lingkungan kita, didunia kerja dan lebih tahan menghadapi tantang hidup.
Seorang aktivis biasanya lebih mudah mendapatkan pekerjaan, mudah
mendapat pekerjaan, dan seringkali menempati posisi-posisi strategis
didalam pemerintahan/instansi swasta dikarena kemampuan yang diperoleh
di organisasi.
Bagus kan?
Tapi masalah yang terjadi justru, orang-orang melihat bahwa sebagian
aktivis (mahasiswa aktif organisasi), memiliki nilai IPK yang anjlok,
kuliah terbengkalai, wisuda telat, dsb. Inilah yang menjadi kekhawatiran
dan menjadi momok bagi orang tua, dosen dan masyarakt untuk melepas
anaknya berorganisasi. Dan itu benar terjadi.
Alasan yang selalu muncul adalah sibuk di organisasi, banyak amanah organisasi, banyak yang di urus, dsb.
Fakta menariknya dari keseluruhan ini adalah:
1. Mahasiswa yang berorganisasi yang mendapat IPK jelek (< 3 ) banyak, tapi mahasiswa yang hanya fokus kuliah yang ber-IPK rendah (< 3 ) jumlahnya jauh lebih banyak.
2. Mahasiswa yang memilih kuliah saja yang mendapat IPK bagus (>
3) itu jumlanya banyak, tapi mahasiswa yang berorganisasi yang mendapat
IPK bagus (> 3) jumlahnya tak kalah banyak.
3. Mahasiswa yang berprestasi itu jarang sekali diraih oleh
mahasiswa yang focus kuliah saja, tapi segudang prestasi justru diraih
oleh mahasiswa yang aktif di organisasi.
Yang ingin saya sampaikan dan klarifikasikan adalah:
1. Fokus kuliah kok IPK anjlok, lulus telat? Yang bermasalah bukan
kuliahnya. Tapi diri ANDA. Anda yang tak pernah mau focus belajar. Waktu
anda habis sia-sia seperti tidur-tiduran saja, nonton, nongkrong,
online, dsb hingga lupa belajar.
2. Berorganisasi bikin IPK jelek dan telat wisuda? Tunggu dulu,
banyak orang hebat lahir dari organisasi. Aktivis IPK cumlaude banyak,
yang IPK 3 sangat banyak. Tapi kenapa ada yang jelek IPK nya? Sadarkah
kita bahwa, sebagian organisatoris sukses itu sudah membuktikan mereka
bisa, dan tentunya yang lain pun bisa. Masalahnya adalah kita terlalu
banyak mengkambing hitam kan organisasi. Alasannya sibuk, banyak rapat,
banyak amanah. Terkadang itu hanya sebuah pembenaran, buktinya ada yang
sukses membagi waktu, kenapa kita tidak? Kita terlalu terlena dengan
dunia kita sehingga waktu kita habis untuk bercanda saja,
ngumpul-ngumpul saja, online, dsb. Padahal banyak sekali waktu kosong
kita yang tak di manfaatkn untuk belajar.
3. Kuliah dan organisasi itu bukan dua hal yang bertentangan. Ibarat
air dan minyak. Berbeda tapi bisa berdampingan. Keduanya dapat berjalan
seiringan. Dan telah banyak orang yang sukses dan berhasil
menjalankannya keduanya.
Maka, STOP mengkambing hitam kan organisasi atas KEMALASAN DAN
KELALAIAN kita. Kalau kita belajar, inshaallah IPK kita bagus. Kalau
kita pandai mengatur waktu, inshaallah organisasi sebagai penunjang akan
dapat berjalan beriringan.
4. Apapun pilihan kita, apakah kuliah, organisasi ataupun
menjalankan keduanya sekaligus, selama kita belajar, pandai membagi
waktu dan focus pada tujuan pasti akan membawa hasil yang baik.
5. Sukses itu pilihan. Apakah kita memilih untuk sukses lantas
berjuang, ataukah kita memilih gagal dengan senantiasa malas dan lalai?
~Manisnya hidup, kita yang tentukan~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar