ATAS NAMA CINTA (Memaknai Cinta dengan benar)

Kamu pakai kartu apa sih?? Kok sinyalnya kuat banget sampai menembus hatiku.
Kalo pulsa dan hape adalah sepaket, maka aku dan kamu adalah paket terindah, karna tanpa salah satu tiada gunanya.

Tau gak??? kenapa saya lebih suka apel dibandingkan anggur.. Kenapa?? soalnya saya lebih suka ngapelin kamu, di bandingkan nganggurin kamu.

Kamu gak di cariin orang tua kamu apa?? Kok setiap malam selalu hadir dalam mimpiku sih.

Walaupun aku udah dewasa tapi aku gak bisa hidup mandiri, buktinya aku gak bisa hidup tanpa kamu.
_______________________________________________________________

Terlalu biasa kita mendengar gombalan macam diatas. Kata-kata cinta seperti jualan murah. Kita terlalu meremehkan arti cinta. Padahal makna cinta tidak berhenti pada sekedar kata-kata gombal “I love you”.

Ada sebuah percakapan antara Rasulullah dengan pamannya, Abu Jahal.
Rasulullah : Paman, Maukah kita menggenggam 2 permata dunia (yang dimaksud adalah Persia dan Romawi sang penguasa dunia saat itu)?
Abu jahal : *Abu jahal bergembira menyambut ajakan tersebut*
Rasulullah : Tapi paman harus berjanji mengatakan 1 hal.
Abu Jahal : apa itu? Aku bahkan akan mengatakannya hingga 1000 kali
Rasulullah : Asyhadu an-Laa Ilaaha Illallah wa Asyhadu an-na Muhammadarrosuululloh
Abu Jahal :*Muka memerah padam dan berpaling dari Rasulullah* itulah perkataan yang dibenci para pembesar kita.

Abu Jahal sangat mengerti konsekuensi dari ucapan tersebut hingga berpaling dari Rasulullah.
Syahadat bukan hanya sekeder pengakuan, ada konsekuensi besar di belakangnya. Artinya ada sebuah deklarasi jiwa, Deklarasi cinta, Deklarasi ketaatan dan ketundukkan kepada Allah dan Rasulnya.

Atas nama cinta kehidupan ini bermula, atas nama cinta dunia ini berjalan dan atas nama cinta dunia ini berakhir.
Yang mula-mula dari dunia ini adalah Allah dan tak ada yang mengawali-Nya. Allah lalu menciptakan singgasananya diatas air. Allah kemudian menciptakan pena. Dengan pena ini Allah memerintahkan proses penciptaan kehidupan dunia, dengan pena Allah menuliskan ciptaannya dan kejadian-kejadian yang terjadi di alam kehidupan ini. Allah menuliskan sejak proses penciptaan kehidupan hingga kehidupan berakhir.
Allah tidak membutuhkan mahluk, tidak membutuhkan pertolongan. Karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Lantas mengapa Allah menciptakan dunia dan se-isinya?
ATAS NAMA CINTA. Itulah alasan mengapa Allah menciptakan kehidupan ini. Atas nama cinta Allah menciptakan segalanya dengan sempurna. Karena cinta menuntut konsekuensi memberi.
Terkadang kita manusia, menggampangkan makna cinta bahkan sesumbar mengungkapkannya tanpa makna.

Kita harus memaknai cinta dengan benar.
Cinta merupakan sebuah deklarasi jiwa, deklarasi jiwa yang membawa konsekuensi, yang menuntut untuk memberi, perhatian dan pengorbanan.

Cinta adalah sebuah gagasan. Makna gagasan cinta adalah memberi. Memberikan segalanya kepada yang dicintai.
Cinta adalah menumbuhkan. Menumbuhkan perasaan dan menumbuhkan orang yang mencintai. Seseorang yang mencintai akan senantiasa bertumbuh demi orang yang dicintainya.
Kegamangan tentang cinta bukan karena takut kehilangan seseorang. Tapi kegamangan karena kita kehilangan pekerjaan jiwa untuk selalu memberi.

Mengatakan, I love You.
Merupakan sebuah deklarasi jiwa yang kita ucapkan yang menuntuk konsekuensi untuk memberi, perhatian dan siap berkorban.
Deklarasi cinta, deklrasi jiwa bukanlah sebuah pekerjaan kecil. Deklarasi cinta merupakan pekerjaan orang kuat bukan pekerjaan penggombal. Karena ada konsekuensi besar yang harus dijalankannya.

Sama dengan cerita abu jahal tadi yang tidak mau mengucapkan syahadat.
Karena syahadat adalah sebuah deklarasi cinta, deklarasi jiwa tentang ketaatan, deklarasi untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kita harus siap dengan konsekuensi cinta tersebut. Karena Allah menciptakan dunia ini Atas nama cinta.
Atas nama cinta kepada Allah, Sudah seharusnya lah kita mencintai Allah dan rasulnya di atas segalanya. Sebagai sebuah deklarasi cinta, deklarasi jiwa maka konsekuensi cinta berupa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi prioritas pertama dan utama.
Ikhwafillah, Marilah kita perbaiki kualitas cinta kita kepada Allah. Sebagai bukti cinta tersebut kita implementasikan dalam ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya.

Allah Ta’ala berfirman, Akan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus; sebagai karunia dan nikmat (yang besar) dari Allah SWT. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. (Al-Hujuraat [49]: 7)

Allah Ta’ala berfirman, Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petujuk kepada orang-orang yang fasik. (At-Taubah [9]: 24)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar