Tentu saja, musuh yang nyata bagi manusia adalah syaitan. Tak ada keraguan lagi tentang itu dan semua manusia menyadari hal tersebut. Meskipun tidak sedikit dari manusia tergelincir karena godaannya.
Sesungguhnya ia musuh yang nyata terhadap kamu!” [Yasin 36:60]
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al Baqarah: 34)
Wahai sekalian manusia! Makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik, dan janganlah kamu ikut jejak langkah syaitan; kerana sesungguhnya syaitan itu ialah musuh yang terang nyata bagi kamu. (Al-Baqara,:168)
Dengan musuh yang nyata dan sudah kita sadari saja manusia masih bisa tergelincir. Apalagi kalau menghadapi musuh terselubung manusia di dunia ini. Kita tidak sadar bahwa sesungguhnya itu juga merupakan musuh bagi kita.
Apakah musuh terselubung manusia di dunia ini?
Musuh terselubung manusia di dunia ini ada dua yaitu:
1. DUNIA itu sendiri
Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kalian, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, sementara kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. (Al-An’am 130)
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (Al-Munafiqun 9)
“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu terlaknat. Semua yang ada di dalamnya terlaknat kecuali dzikrullah serta orang yang berdzikir, orang yang berilmu agama dan orang yang mengajarkan ilmu agama.“ (HR. Tirmidzi)
“Andai anak Adam diberi emas satu lembah, ia ingin mendapat dua lembah. Tidak ada yang dapat membungkam mulutnya selain tanah, dan Allah mengabulkan taubat hamba-Nya yang bertaubat”. (HR. Bukhari-Muslim)
Dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melintas masuk ke pasar seusai pergi dari tempat-tempat tinggi sementara orang-orang berada disisi beliau. Beliau melintasi bangkai anak kambing dengan telinga melekat, beliau mengangkat telinganya lalu bersabda: Siapa diantara kalian yang mau membeli ini seharga satu dirham? mereka menjawab: Kami tidak mau memilikinya, untuk apa? Beliau bersabda: Apa kalian mau (bangkai) ini milik kalian? mereka menjawab: Demi Allah, andai masih hidup pun ada cacatnya karena telinganya menempel, lalu bagaimana halnya dalam keadaan sudah mati? Beliau bersabda: Demi Allah, dunia lebih hina bagi Allah melebihi (bangkai) ini bagi kalian. (HR. Muslim)
“Rasulullah saw bersabda, “Akan tiba suatu saat dimana seluruh
manusia bersatu padu melawan kalian dari segala penjuru, seperti halnya
berkumpulnya manusia mengelilingi meja makan.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu terjadi karena
waktu itu jumlah kami sedikit?”Beliau menjawab, “Pada saat itu jumlah
kalian banyak. Namun kalian dalam kondisi tiada daya seperti buih di
lautan. Allah mencabut rasa takut dari dada musuh kalian, dan
mencampakkan ke dalam hati kalian al-wahn.” Para sahabat bertanya,
“Apakah itu al-wahn?”Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut
mati.”(HR.Imam Ahmad)
Dari Abu Umamah Al-Bahily RA; “ketika Nabi Muhammad diutus, para tentara Iblis mendatangi Iblis dan bertkata; “Telah diutus seorang Nabi dan dikeluarkan suatu umat”. Iblis berkata; “Apakah mereka mencintai dunia?”. Mereka menjawab; “Ya”. Iblis berkata; “Jikalau mereka benar menyukainnya niscaya aku tidak peduli apaka mereka tidak menyembah berhala-berhala, aku akan pergi kepada mereka dengan tiga perkara, mengambil harta dengan tidak benar, membelanjakan harta pada perkara yang tidak benar, dan menahannya (tidak mau bersedekah), dan kejelekan seluruhnya adalah pengikut hal-hal tadi”.
Ketika pintu-pintu dunia dibukakan untuk para Sahabat mereka berkata;
Kita diuji dengan fitnah kesengsaraan kemudian kita sabar. Dan kita
diuji dengan fitnah kesenangan kemudian kita tidak (mampu) sabar.
Karena itu Rasul Saw bersabda;
“Demi Allah bukanlah kefakiran yang paling aku takutkan padamu tetapi
aku takut dibukanya dunia untukmu sebagaimana telah dibuka bagi
orang-orang sebelummu dan kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya
sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan akan menghancurkanmu sebagaimana
telah menghancurkan mereka” (HR Bukhari dan Muslim)
2. DIRI kita sendiri
Diri kita sendiri dapat menjadi musuh terselubung. Berhadapan dengan musuh akan membuat kita siaga dan mempersiapkan diri untuk melawannya. Namun menghadapi diri kita sendiri, terkadang kita menjadi lalai. bahkan tidak sadar sedang terlalaikan. Dan perang melawan diri sendiri dapat menjadi peperangan besar.
Dikisahkan, sekembalinya dari sebuah pertempuran, nabi saw berkata, “Kita baru saja pulang dari jihad (perang) kecil menuju jihad terbesar ” Sambil terperangah, para sahabat bertanya, “Apakah gerangan perang terbesar itu wahai Rasulullah?” Nabi saw menjawab, perang menaklukkan diri sendiri.” (HR Baihaqi dari Jabir).
Dalam hal ini sifat yang dapat menjadi musuh terselubung bagi manusia didalam diri kita sendiri adalah rasa malas dan nafsu.
Rasa malas menjadikan semua aktivitas kebaikan menjadi tertunda bahkan tidak terlaksana. Sehingga aktivitas kita menjadi kontra produktif. Rasa malas ini merupakan musuh yang nyata yang harus kita lawan.
Kata Rasulullah SAW malas adalah sebuah penyakit. Penyakit malas ini selalu menjadi musuh manusia dan banyak manusia yang terpedaya oleh penyakit ini. Salah satunya mungkin diri kita.
Coba kita rasakan, adakah penyakit malas didiri kita? Ketika kita mau melaksanakan shalat tahajud atau shalat subuh adakah penyakit malas disana? Ketika kita selesai shalat Fardu lalu kita berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT adakah penyakit malas disana? Ketika disuruh oleh ibu kita untuk mengerjakan sesuatu hal padahal kita lagi asyiknya nonton tv, adakah penyakit malas disana? Ketika menerima tugas dari atasan di kantor, adakah penyakit malas disana? Dan banyak lagi suasana atau keadaan diri kita yang mana pada waktu itu diri kita sedang dilanda penyakit malas. Dan ini dirasakan oleh semua, baik anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua.
Malas adalah sifat buruk yang wajib dihindari oleh semua muslim. Firman Allah dalam al-Qur’an (artinya):
“Sesungguhnya
orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.
Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka
bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut
Allah kecuali sedikit sekali.” (QS an-Nisa’ [4]: 142)
Kedua, hawa nafsu.
Sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak manusia pada kejahatan '' (surah: Yusuf ayat:53)
Nabi Saw bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga hawa nafsunya tunduk kepada apa yang telah aku sampaikan”. (HR Hasan). Jihad yang paling utama adalah menaklukkan hawa nafsumu untuk tunduk pada Dzat Allah (HR Ad-Dailami) dan “Orang yang hijrah adalah orang yang mampu meninggalkan keburukan.” (HR Ahmad dan Baihaqi dari Fadhalah ibn `Ubaid).
Nafsu inilah yang di sebut dengan penyakit hati dan syahwat atau nafsu yang menggiring manusia pada perbuatan yang di larang oleh Allah Swt dan hingga manusia lalai dengan kewajiban peintah Allah Swt. Ya inilah nafsu yang harus kita perangi
Dengan mengetahui dan menyadari musuh terselubung manusia di dunia ini, kita sepatutnya untuk mawas diri, berusaha sebaik mungkin menghindarinya dan melawan semua godaan yang ada.
Semoga kita bisa terselamatkan dari godaan dunia dan nafsu kita.
Wallahu a'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar